×
Home > Cari Tahu > tanya jawab mitos dan fakta tentang alergi makanan

tanya jawab mitos dan fakta tentang alergi makanan

Mitos dan Fakta Alergi Makanan

Tahukah Bunda bahwa belakangan ini prevalensi alergi dan asma secara global mengalami peningkatan, termasuk di Indonesia? Berdasarkan data World Allergy Organisation (WAO), diketahui prevalensi alergi terus meningkat dengan angka 30-40 persen dari total populasi dunia. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), di berbagai daerah di Indonesia, angka kejadian alergi bervariasi mulai 3 hingga 60 persen.  

Dari semua jenis alergi yang diketahui, alergi yang paling sering ditemukan kasusnya pada anak-anak adalah alergi makanan. Sebenarnya semua makanan berpotensi menyebabkan alergi. Namun ada beberapa jenis makanan tertentu yang sangat umum menyebabkan kondisi tersebut, contohnya susu sapi, makanan laut, kacang, telur, dan lain-lain.

Berikut adalah mitos dan fakta seputar alergi makanan yang perlu diketahui oleh Ayah dan Bunda:

  1. Alergi makanan tidak berbahaya

Salah. Ada beberapa tingkat keparahan alergi makanan yaitu ringan, sedang, hingga berat. Gejala alergi dapat berupa ruam merah atau bentol gatal di kulit, bengkak pada mata dan bibir, sesak napas, pingsan, hingga menyebabkan kematian. Untuk menghindari gejala yang berat, pantanglah makanan yang telah dipastikan dokter sebagai alergen.

       2. Alergi makanan dan intoleransi makanan adalah dua hal yang berbeda

Benar. Alergi makanan disebabkan oleh reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan gejala alergi. Gejala alergi tersebut dapat melibatkan sistem pencernaan, pernapasan, dan kulit. Sementara itu, intoleransi makanan adalah kondisi di mana sistem pencernaan tidak mampu mengolah makanan, biasanya disebabkan oleh kekurangan enzim pencernaan. Oleh karena itu, gejala intoleransi hanya sebatas pada gejala pencernaan, seperti kembung, diare, nyeri perut, mual, dan lain-lain.

       3. Si Kecil yang memiliki alergi makanan akan terus mengalaminya seumur hidup

Salah. Sebagian besar anak yang mengalami alergi makanan seperti alergi susu sapi, telur, soya, dan gandum, umumnya akan sembuh ketika menginjak usia tiga tahun. Tetapi, ada sebagian kecil dari kelompok anak dengan alergi yang akan terus memiliki kondisi tersebut hingga dewasa.

       4. Apabila Si Kecil alergi telur, maka ia tidak boleh diimunisasi influenza

Salah. Dalam vaksin influenza memang terdapat sedikit kandungan telur. Namun American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology menegaskan bahwa anak yang memiliki gejala alergi yang ringan-sedang masih boleh mendapatkan vaksin tersebut. Meski demikian, telah tersedia jenis vaksin influenza yang tidak mengandung telur untuk pilihan yang lebih aman.

       5. Bunda yang sedang hamil atau menyusui harus memantang berbagai jenis makanan yang dicurigai menyebabkan alergi

Salah. American Academy of Pediatrics menyatakan bahwa ibu hamil dan menyusui tidak perlu memantang makanan tertentu jika belum terbukti benar-benar menyebabkan alergi pada Si Kecil. Menghindari berbagai jenis makanan yang belum terbukti menyebabkan alergi dikhawatirkan dapat membuat ibu hamil dan menyusui kekurangan gizi.

       6. Ayah dan Bunda tidak perlu menunda pemberian makanan yang sering dikhawatirkan menyebabkan alergi

Benar. American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa pemberian makanan seperti telur, susu sapi, kacang, dan ikan masih aman jika Si Kecil belum dipastikan memiliki alergi terhadap makanan tersebut. Pembatasan berbagai makanan tanpa kepastian yang jelas malah berisiko mengurangi gizi yang seharusnya didapatkan olehnya.

Hingga kini alergi belum dapat disembuhkan. Obat antialergi hanya akan meredakan gejala yang muncul. Oleh karena itu, apabila Si Kecil sudah dipastikan menderita alergi makanan tertentu maka Bunda harus memastikan ia memantang alergen tersebut.