×
Home Pop Up
Home > Cari Tahu > risiko alergi semakin meningkat, kenali penyebabnya!

risiko alergi semakin meningkat, kenali penyebabnya!

Risiko Alergi Semakin Meningkat, Kenali Penyebabnya!

Tercatat 30-35% penduduk dunia memiliki alergi. Peningkatan jumlah populasi penduduk yang memiliki alergi ini awalnya dimulai di negara maju seperti Amerika dan Eropa, lalu menyebar ke seluruh negara industri.

Sebelumnya, jenis alergi pada anak yang lebih banyak dialami umumnya adalah asma dan rinitis alergi. Kini, pola tersebut telah bergeser menjadi alergi terhadap makanan – yang terutama terjadi pada anak-anak.

Gejala alergi disebabkan ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat atau benda yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh. Misalnya serbuk sari, debu, makanan, dan lain-lain.

Genetik memainkan peran penting dalam kejadian alergi ini. Anak-anak yang terlahir dalam keluarga yang memiliki bakat alergi akan berisiko lebih tinggi untuk memiliki alergi pula. Anak yang salah satu orangtuanya memiliki bakat alergi berisiko 50% lebih besar terkena alergi dibandingkan dengan anak yang orangtuanya tidak memilki bakat tersebut. Risiko ini akan meningkat menjadi 60-80% jika kedua orangtuanya memiliki alergi.

Semakin meningkatnya jumlah anak di dunia ini yang mengalami alergi, membuat para peneliti giat mencari sumber penyebabnya. Hingga saat ini telah ditemukan beberapa teori, yaitu: 

Teori Higienitas

Teori ini beranggapan bahwa anak-anak zaman sekarang lebih terpapar kepada “dunia yang lebih bersih” dibandingkan dengan anak-anak zaman dulu. Segala mainan, makanan, dan perlengkapan anak dijaga dengan sangat higienis – ini terjadi karena pengetahuan para orangtua akan kesehatan juga semakin meningkat.

Kini, penggunaan sabun dan pembersih antibakteri semakin marak digunakan, juga teknik penyiapan makanan yang semakin higienis. Hal ini menyebabkan anak-anak kurang terpapar dengan bakteri yang dapat “melatih” sistem kekebalan tubuh mereka, sehingga gagal untuk membedakan benda yang berbahaya dan tidak dan malah jatuh pada keadaan alergi.

Hal ini berangkat pada lebih banyaknya populasi anak yang mengalami alergi di kota-kota besar yang maju dan tingkat higienitasnya baik, dibandingkan dengan pedesaan di mana anak-anaknya banyak terpapar dengan hewan-hewan peternakan. Hewan peternakan yang tentunya “kurang higienis” memberikan paparan bakteri terhadap sistem kekebalan tubuh anak-anak di pedesaan, sehingga terbiasa dilatih untuk melawan kuman jahat. Akibatnya, reaksi alergi tidak memiliki tempat untuk berkembang.

Teori Antibiotik

Teknologi dan penelitian telah membuka jalan bagi dikembangkannya berbagai macam antibiotik yang canggih dan ampuh untuk melawan kuman. Hal ini turut mendorong maraknya penggunaan antibiotik, termasuk pada anak-anak.

Paparan antibiotik yang terlalu dini dan sering pada anak-anak diduga mengakibatkan perubahan pada komposisi bakteri dalam tubuh anak, sehingga reaksi alergi menjadi berkembang.

Teori Makanan

Makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak pada zaman sekarang dianggap miskin zat gizi, seperti vitamin D, omega-3, dan antioksidan. Hal ini diduga berkontribusi terhadap terjadinya alergi, karena vitamin D memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh dan perkembangan awal paru-paru. Sementara itu, beberapa penelitian berkesimpulan bahwa diet rendah omega-3 berdampak pada meningkatnya kejadian asma dan alergi lainnya.

Kondisi kekurangan vitamin D semakin bertambah dengan minimnya paparan anak-anak terhadap sinar matahari. Hal ini terjadi salah satunya karena penggunaan tabir surya. Selain itu, anak-anak zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya berada di dalam ruangan. Meski demikian, penelitian yang memberikan suplementasi vitamin D kepada wanita hamil belum berhasil menunjukkan efek signifikan dalam menurunkan kejadian alergi pada anak.