×
Home Pop Up
Home > Cari Tahu > kandungan hypoallergic dapat minimalisir alergi? ini penjelasannya!

kandungan hypoallergic dapat minimalisir alergi? ini penjelasannya!

Kandungan Hypoallergic dapat Minimalisir Alergi? Ini Penjelasannya!

Faktor biologis merupakan salah satu pemicu timbulnya risiko alergi pada Si Kecil, Bun. Tak jarang beberapa Bunda mendapati anaknya didiagnosa akan memiliki alergi, khususnya alergi susu sapi. Kondisi tersebut bisa menjadi peringatan bagi Bunda, tentunya untuk melakukan berbagai antisipasi. Ya, salah satunya Bunda perlu menghindari berbagai asupan yang mengandung susu, dengan begitu alergi Si Kecil dapat diminimalisir.

Tak hanya itu, risiko alergi Si Kecil pun dapat dihindari dengan pemberian ASI eksklusif. Namun, apa yang harus dilakukan jika Bunda tak bisa memenuhi ASI eksklusif Si Kecil? Nah, pemberian susu formula khusus alergi tentu bisa dijadikan alternatif, dengan begitu gizi Si Kecil pun akan tetap terpenuhi. Salah satunya Bunda bisa memilih susu formula yang mengandung komposisi hypoallergenic.

Jika diartikan, Hypo berati rendah, sedangkan allergenic berarti alergen/ pemicu alergi. Dengan begitu hypoallergenic ialah golongan kandungan yang memiliki zat alergen rendah. Kandungan protein dalam susu dianggap sebagai pemicu alergi anak, karena itulah Hypoallergenic berperan untuk meminimalisir protein di dalamnnya.

Kandungan Hypoallergenic telah melalui proses peruraian zat protein, yang nantinya membuat rantai protein dalam susu semakin kecil. Kondisi rantai protein yang semakin kecil tersebutlah, yang akhirnya bisa lebih mudah dicerna. Tak hanya itu, adanya proses pemecahan protein nyatanya juga berdampak pada rasa susu, di mana semakin terurainya protein, akan membuat susu tidak terasa pahit.

Setidaknya, susu hidrolisat ekstensif dan susu asam amino ialah dua susu yang masuk dalam kelompok susu berformula hypoallergenic.  Anak yang memiliki risiko alergi ringan pada umumnya akan dirujuk untuk mengonsumsi susu hidrolisat ekstensif. Berbeda dengan Si Kecil yang memiliki risiko alergi berat, biasanya anak akan dirujuk untuk mengonsumsi susu asam amino sebagai terapinya.

Beberapa dokter biasanya menganjurkan anak untuk mengonsumsi susu hypoallergenic selama enam bulan, untuk kemudian dilakukan tes lebih lanjut. Hal tersebut dilakukan karena pada umumnya alergi susu hanya terjadi pada anak berusia 2-3 tahun. Kecenderungan alergi susu yang berbeda-beda pada tiap anak membuat Bunda harus tetap waspada.

Ya, meskipun beragam informasi mengenai alergi anak dapat dengan mudah diterima, Bunda tetap memerlukan nasihat dari ahlinya. Pasalnya, salah langkah justru dapat berakibat buruk bagi Si Kecil, Bun. Yuk hadapi alergi Si Kecil secara cermat!