×
Home Pop Up
Home > Cari Tahu > intoleransi laktosa, rupanya menurun di keluarga

intoleransi laktosa, rupanya menurun di keluarga

INTOLERANSI LAKTOSA, RUPANYA MENURUN DI KELUARGA

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Peribahasa ini umum digunakan untuk memerlihatkan bahwa sifat atau budi pekerti anak akan mengikuti orangtua. Selain sifat dan budi pekerti, ada banyak hal yang diturunkan orangtua kepada anaknya, misalnya kondisi kesehatan. Salah satu kondisi kesehatan yang dipengaruhi oleh faktor genetik adalah intoleransi laktosa. Meskipun demikian, intoleransi laktosa bisa juga disebabkan oleh beberapa kondisi lain, misalnya kelahiran prematur dan infeksi.

 

Sebenarnya, apa, sih, yang dimaksud dengan intoleransi laktosa? Apakah sama dengan alergi susu sapi? Intoleransi laktosa adalah kondisi di mana seseorang tidak mampu mencerna laktosa, gula alami yang terkandung dalam susu. Hal ini disebabkan defisiensi enzim laktase yang dibutuhkan untuk memecah laktosa menjadi gula yang bisa digunakan oleh tubuh. Sedangkan alergi susu sapi adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh memiliki respons tidak normal terhadap kandungan protein dalam susu.

 

Gejala intoleransi laktosa bisa ringan hingga parah, tergantung kondisi enzim laktase penderita. Gejala umumnya muncul 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi susu atau produk olahan susu. Gejala yang muncul antara lain kembung, nyeri perut, diare, muntah, dan lainnya. Cara terbaik untuk mengetahui seseorang memiliki kondisi intoleransi laktosa atau tidak adalah dengan cara menghindari konsumsi susu dan produk olahannya lalu lihat apakah gejala masih tetap muncul atau tidak. Jika ya, coba konsumsi produk susu sedikit demi sedikit untuk melihat apakah gejala yang muncul semakin banyak atau semakin parah.

 

Sayangnya, banyak Ayah dan Bunda yang tidak menyadari kondisi ini. Gejala intoleransi laktosa dianggap sebagai penyakit biasa. Bila Bunda tidak peka, hal ini dapat berakibat fatal. Misalnya, ketika Si Kecil yang mengeluh sakit perut dan didiagnosis terkena diare oleh dokter. Padahal sebenarnya sakit perutnya dipicu oleh intoleransi laktosa. Hal ini mungkin terjadi karena dokter tidak diberitahu riwayat alergi sang anak.

 

Jadi jika Ayah dan Bunda memiliki riwayat intoleransi laktosa, sebaiknya berkonsultasi pada dokter spesialis gizi klinik ataupun dokter spesialis anak tentang hal ini, meski Si Kecil tidak menunjukkan gejala-gejala intoleransi laktosa. Ini akan membantu untuk mencegah kondisi di masa mendatang.

 

Belum ada obat untuk menangani kondisi intoleransi laktosa. Gejala bisa diminimalkan dengan membatasi atau menghindari produk susu. Cara ini seringkali membuat orangtua khawatir anak mereka tidak mendapatkan nutrisi yang cukup dari susu atau produk olahan susu, terutama kalsium. Siasati kondisi ini dengan memberikan Si Kecil makanan kaya kalsium, seperti brokoli, kale, tuna, salmon, sereal yang difortifikasi, dan kacang almond.

 

Jadi, apabila Si Kecil didiagnosis dokter memiliki kondisi intoleransi laktosa Bunda tidak perlu khawatir ia tidak akan mendapat asupan nutrisi yang dibutuhkan karena masih banyak sumber makanan yang juga memiliki kandungan sama dengan susu. Tentunya, dengan pemenuhan gizi tersebut proses tumbuh kembangnya bisa berjalan baik dan optimal.