Home Pop Up
Klik di mana saja untuk menutup banner.
Home > Cari Tahu > bunda, yuk lindungi anak dari kejahatan seksual!

bunda, yuk lindungi anak dari kejahatan seksual!

Bunda, Yuk Lindungi Anak dari Kejahatan Seksual!

Pemberitaan kasus pelecehan terhadap anak sempat meramaikan berbagai media di tahun 2014 silam. Bahkan, Komnas Perlindungan Anak mengungkapkan, jika dari 10 laporan kekerasan pada anak, 8 di antaranya adalah kasus kejahatan seksual, dan 80% korban adalah anak perempuan.

Merinding dan geram rasanya mengetahui fakta seperti ini. Mengapa para penjahat tersebut tega melakukan kejahatan seksual kepada anak-anak, yang harusnya mendapat kasih sayang dan perlindungan?

Dengan kenyataan ini, sudah selayaknya semua orangtua lebih memfokuskan diri melindungi anak mereka. Sayangnya, di era yang semakin berkembang sekarang, menghindari kasus seperti ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Pasalnya, kemampuan para predator yang siap memangsa anak-anak di luar sana, tidak terdeteksi dengan mudah pergerakannya. Apa modusnya, kapan melakukan, situasi seperti apa?

Bukan sekadar menakut-nakuti, ya Bunda, tapi mari mulai menerapkan tindakan pencegahan kejahatan seksual dari anak-anak kita. Lalu, apa saja yang harus diterapkan? Lakukanlah 7 hal ini:

  1. Ajarkan tentang hal privasi 

    Hal yang paling mendasar bisa diajarkan pelan-pelan kepada anak adalah soal hal privasi. Seperti, tidak semua orang boleh melihat dan apalagi menyentuh alat kelaminnya. Ajarkan kepada siapa dan situasi bagaimana boleh. Misalnya, boleh ketika berkunjung ke dokter untuk memeriksa atau pengasuh ketika memandikan.
    Tidak hanya anak, Anda selaku orangtua juga harus menjaga privasinya. Jangan menelanjangkannya di tempat umum, misalnya ketika berganti baju di pinggir kolam renang atau pantai. Dan, tidak mengunggah sembarang foto anak ke dunia maya. Karena, predator bisa bergerak melalui jejaring sosial.

  2. Ajarkan membedakan jenis sentuhan 

    Terapkan dengan tegas, jika ada 3 jenis sentuhan yang harus dia ketahui, dengan memberi istilah yang mudah dimengerti olehnya. Misalnya: Pertama, dinamakan “Sentuhan baik dan boleh”, sentuhan dari orang lain, yang menggunakan tangan dan hanya dilakukan di bagian tubuh di atas bahu dan di bawah lutut. Seperti membelai kepala dan mencubit pipi.

    Kedua, “Sentuhan hati-hati”, sejenis sentuhan yang membingungkannya, jika sentuhan dilakukan di bawah bahu hingga atas lutut tubuh anak.

    Ketiga, “Sentuhan jelek/ tidak boleh”, yaitu jika orang lain menyentuh bagian tubuh yang tertutup pakaian dalam. Bila ada yang berani melakukan sentuhan ini, suruh anak berani menolak dan berteriak tegas, ""Tidak boleh!""

  3. Komunikasi terbuka

    Buatlah anak selalu nyaman untuk jujur kepada Anda. Dorong ia untuk selalu memberitahukan tentang hal-hal yang membuat mereka merasa takut, sedih, atau tidak nyaman. Jika Anda dan anak memiliki komunikasi yang terbuka, otomatis Anda akan langsung mengetahui jika ada sesuatu yang mencurigakan.

  4. Jangan beberkan nama Si Kecil 

    Sering sekali dijumpai stiker nama-nama keluarga di kaca mobil. Maksudnya memang baik, yaitu untuk mengekspresikan rasa cinta keluarga. Namun, lebih baik hindari hal ini.

    Karena, sama saja Anda memberi umpan kepada predator untuk berbuat kejahatan, dengan modus pura-pura menjemput sekolah atau memberikan hadiah dengan langsung menyapa namanya, karena indentitas sudah dibeberkan terlebih dahulu.

  5. Mengingat nama, alamat, dan nomor telepon

    Ketika anak sudah duduk di Sekolah Dasar, umumnya ia sudah bisa mengingat. Maka, ajarkan Si Kecil untuk menghapal nama, alamat, dan nomor telepon Anda selaku orangtuanya.

    Ajarkan juga bagaimana harus bertindak jika Si Kecil dalam situasi berbahaya saat terpisah dari orangtua atau guru. Minta ia agar segera mencari pihak keamanan dan beritahukan nama orangtua serta nomor telepon yang sudah dihapalkannya.

  6. Keamanan internet

    Di era teknologi yang berkembang saat ini, sebagian anak sudah mengonsumsi internet. Demi mengontrol apa yang diaksesnya, orangtua bisa memilih situs-situs yang tepat. Jika Si Kecil sudah memiliki akun sosial media, tekankan padanya agar tidak memberi data pribadi. Seperti alamat dan nomor telepon di akun sosial media mereka.

  7. Waspada dengan orang yang Anda kenal

    Dari kasus-kasus pelecehan seksual yang sudah terungkap beberapa kali, ternyata pelakunya adalah orang yang dikenal baik oleh orangtuanya. Dan menurut riset Assosiasi Psikolog Amerika Serikat, 90% dari kasus pelecehan seksual yang terungkap, ternyata pelakunya merupakan orang yang dikenal korban.

    Bahkan, 30% di antaranya masih memiliki hubungan keluarga. Hanya 10% pelaku yang betul-betul orang asing bagi korban. Itu sebabnya, Anda juga harus selalu waspada kepada orang dewasa yang kerap menghabiskan waktu dengan Si Kecil, termasuk untuk orang yang Anda kenal baik sekalipun.