×
Home Pop Up
Home > Cari Tahu > berbahayakah alergi makanan pada anak?

berbahayakah alergi makanan pada anak?

Berbahayakah Alergi Makanan pada Anak?

KlikDokter.com - Alergi makanan terjadi pada sebagian orang yang memiliki sensitivitas terhadap jenis makanan tertentu. Hal ini timbul ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali makanan sebagai suatu zat yang berbahaya bagi tubuh, sehingga melancarkan reaksi peradangan. Reaksi ini pada akhirnya akan menimbulkan berbagai gejala alergi.

Alergi makanan dapat muncul pada usia berapa pun, tak terkecuali pada bayi. Namun, umumnya alergi ini muncul pada anak yang berusia kurang dari 5 tahun.

Alergi Makanan dan Reaksi Simpang Makanan

Istilah alergi makanan sering disalahartikan oleh sebagian orang dengan reaksi simpang makanan. Reaksi simpang makanan adalah gejala yang mengganggu yang terjadi ketika mengonsumsi suatu makanan. Namun, gejala ini tidak berbahaya dan tidak disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh. Karena tidak disebabkan oleh sistem imunitas, maka reaksi simpang makanan bukanlah alergi.

Contoh reaksi simpang adalah mengalami sakit kepala ketika terlalu banyak mengonsumsi kopi, cokelat, atau anggur. Atau perut kembung ketika terlalu banyak minum milkshake dan makan pasta atau gado-gado. Intoleransi laktosa juga termasuk ke dalam reaksi simpang makanan.

Prevalensi Alergi Makanan pada Anak

Alergi makanan terjadi pada 1 di antara 20 anak. Berbagai studi menyatakan rata-rata alergi makanan dialami sekitar 10% anak yang berusia 0-1 tahun, 4-8% pada anak usia 1-5 tahun, dan juga dialami sekitar 2% orang dewasa.

Angka kejadian alergi makanan semakin lama semakin meningkat, terutama pada anak-anak. Gejala alergi makanan yang berat pun meningkat dua kali lipat selama dekade terakhir ini.

Peningkatan prevalensi alergi makanan disinyalir terjadi karena anak hidup di lingkungan yang semakin bersih, sehingga kurang terpapar dengan infeksi. Akhir-akhir ini juga semakin banyak bahan makanan ditambahkan berbagai zat aditif, seperti pengawet, pewarna, penambah rasa, dan melalui berbagai sistem pemrosesan sebelum sampai ke tangan konsumen.

Penyebab Alergi Makanan pada Anak

Penyebab alergi makanan yang paling sering adalah susu sapi, telur, kacang-kacangan, ikan, dan gandum. Kebanyakan anak memiliki gejala alergi yang ringan dan sebagian besar dari mereka akan terbebas dari alerginya ketika menginjak pubertas.

Namun penderita alergi kacang-kacangan dan makanan laut umumnya akan mengalami gejala yang lebih berat dan hanya 25% dari antara mereka yang dapat terbebas dari alergi ini ketika beranjak dewasa.

Gejala Alergi Makanan

Gejala alergi makanan dapat bervariasi, mulai dari gejala ringan-sedang seperti pembengkakan mata dan bibir, biduran, nyeri perut, dan muntah.

Ada pula sebagian kecil anak yang memiliki gejala alergi yang berat, yaitu syok anafilaksis. Dimulai dengan sesak napas, mengi, bengkak pada lidah dan pita suara, sulit berbicara, pusing, pingsan, tekanan darah menurun, nadi melemah, hingga fatal.

Anak yang pernah mengalami syok anafilaksis harus ekstra hati-hati terhadap makanan yang menimbulkan gejala alergi tersebut. Sangat disarankan agar ia atau orangtua selalu membawa pen penyuntik adrenalin sebagai pertolongan pertama seandainya reaksi tersebut muncul sewaktu-waktu.

Pencegahan Alergi Makanan

Penting bagi Anda untuk mengetahui dengan pasti makanan apa saja yang menyebabkan alergi pada Si Kecil. Dengan mengetahuinya, Si Kecil dapat terhindar dari reaksi alergi makanan.

Anda dapat melakukan diet pantang makanan yang dicurigai selama 1-2 minggu, lalu memberikannya lagi kepada Si Kecil. Jika muncul gejala alergi, berarti kecurigaan Anda terbukti. Anda juga dapat membawa Si Kecil berkonsultasi kepada dokter untuk diperiksa dan melakukan pemeriksaan alergi, seperti uji cukit kulit dan pemeriksaan darah.

Ditulis oleh:
dr. Karin Wiradarma
Anggota Redaksi Medis
Kedokteran Umum
KlikDokter.com