Home Pop Up
Klik di mana saja untuk menutup banner.
Home > Cari Tahu > bayi susah bab? begini penyebab dan cara menanganinya

bayi susah bab? begini penyebab dan cara menanganinya

Bayi Susah BAB? Begini Penyebab dan Cara Menanganinya

Kondisi bayi yang susah BAB alias sembelit merupakan hal yang normal dialami ketika Si Kecil bahkan ketika ia hanya mengonsumsi air susu ibu (ASI). Mengapa demikian? Kondisi ini terjadi karena komposisi ASI yang masuk ke dalam tubuh akan dibagi. Tubuh bayi akan memanfaatkan kandungan dari ASI untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Sisa dari pembagian itu akan dikeluarkan oleh sistem tubuh melalui kotoran.

 

Karena hampir semua zat dalam ASI digunakan, jumlah kotoran yang keluar dalam bentuk feses atau BAB akan cenderung sedikit. Itulah yang menjadi alasan bayi jarang atau susah BAB. Selain itu, frekuensi BAB pada bayi yang diberi ASI eksklusif biasanya akan berbeda dengan bayi yang diberi susu formula. Bila Si Kecil mengonsumsi susu formula maka ia akan cenderung memiliki frekuensi BAB lebih sering. 

 

Selain itu, cukup normal bila bayi menjadi susah BAB setelah memasuki fase MPASI lantaran Bunda mulai memperkenalkan Si Kecil dengan makanan padat sementara sistem pencernaanya belum sempurna betul. Bukan hanya frekuensi BAB yang lebih sering, namun ketika diberi makanan pendamping ASI, bentuk dan warna feses bayi akan berubah lagi. Sebagai acuan, bayi usia 0-3 bulan rata-rata BAB tiga sampai empat kali sehari. Namun usai diberi MPASI, bisa berkurang menjadi 1 kali sehari. 

 

Ciri Bayi Susah BAB

Frekuensi dan pola BAB pada bayi sering dijadikan salah satu indikator kesehatan bagi Si Kecil. Maka cukup penting bagi Bunda untuk memantau dan memperhatikan kalau-kalau terjadi perubahan pola pada kebiasaan BAB Si Kecil. Selain dari frekuensinya, Bunda juga perlu memperhatikan tekstur, bentuk, maupun warna feses Si Kecil untuk dapat mendeteksi bila ada kondisi medis yang perlu penanganan segera. 

 

Walau sembelit tergolong hal normal yang terjadi pada bayi, namun Bunda tidak boleh menganggap sepele bila ini terjadi. Apalagi bila bayi susah BAB dalam waktu lama, bisa mempengaruhi kondisi kesehatannya hingga tumbuh kembangnya. Ada beberapa gejala yang bisa Bunda waspadai bila terjadi, karena mungkin saja Si Kecil tengah mengalami sembelit. 

  • Jarang buang air besar, frekuensinya hanya dua kali dalam satu minggu
  • Tampak kesulitan, kesakitan, atau tidak nyaman ketika BAB
  • Tinja sulit keluar karena feses keras dan kering
  • Perut bayi menjadi lebih keras saat disentuh
  • Menolak untuk menyusu atau menjadi tidak nafsu makan

 

Selain tanda di atas, bayi yang sedang mengalami sembelit atau susah BAB juga akan cenderung lebih rewel dan menangis sambil mengangkat kakinya. Pada kasus yang parah, akan terdapat bercak darah di popok yang diakibatkan robeknya dinding rektum bayi akibat tinja yang keras. 

 

Bila bayi memiliki gejala sembelit yang disertai hal berikut ini, maka segeralah periksakan ke dokter 

  • Muntah
  • Demam
  • Berat badan turun 
  • Darah pada tinja
  • Benjolan di anus
  • Sobekan kecil di anus

 

Penyebab Bayi Susah BAB

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan bayi menjadi susah untuk BAB. Mulai dari perubahan menu, alergi susu atau makanan tertentu, hingga makan dan konsumsi vitamin yang mengandung zat besi bisa menjadi penyebab bayi kesulitan buang air besar. Beberapa hal yang menjadi faktor Si Kecil menjadi sembelit antara lain

 

  • Susu Formula

Bayi yang mengonsumsi susu formula akan lebih rentan mengalami konstipasi dibanding dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif. Hal ini berkaitan dengan kandungan protein yang terdapat dalam susu formula. Jika Si Kecil mengalami sembelit cobalah konsultasikan ke dokter untuk mengetahui lebih jelas mengapa hal tersebut terjadi. 

 

  • Makanan Padat

Ketika Si Kecil mulai beralih mengonsumsi makanan padat, hal ini akan membuat sistem pencernaannya menjadi kaget dan harus beradaptasi dengan kebiasaan baru ini. Masa peralihan dari makanan cair ke padat memang rentan menimbulkan konstipasi. Wajar saja karena Si Kecil sebelumnya terbiasa diberikan makanan cair. Untuk meminimalisasikan resiko konstipasi, Bunda harus memberikan makanan kaya serat kepada Si Kecil.

 

  • Dehidrasi 

Si Kecil mendapat asupan cairan melalui makanan dan minuman yang ia konsumsi, termasuk ASI. Tapi ada beberapa kondisi tertentu seperti tumbuh gigi, sariawan, atau demam yang bisa menyebabkan ia menjadi enggan minum susu. Tentu saja ketika kekurangan cairan, Si Kecil akan mengalami dehidrasi. Hal ini bisa membuat feses menjadi keras dan sulit untuk dikeluarkan. 

 

  • Kondisi Medis Tertentu

Meski kemungkinannya kecil terjadi, beberapa penyakit bisa menyebabkan bayi mengalami susah BAB. Beberapa kondisi seperti hipotiroid, alergi terhadap makanan, dan gangguan sistem pencernaan dari lahir bisa membuatnya sembelit. 

 

Mengatasi bayi susah BAB

Jangan panik ketika Bunda harus dihadapkan dengan kondisi bayi yang susah BAB. Ada beberapa langkah yang bisa Bunda lakukan untuk memberikan pertolongan pertama pada Si Kecil dengan melakukan hal berikut:

 

  • Mengajaknya untuk Aktif

Agar tinja terdorong oleh susu, ajak anak untuk bergerak lebih aktif. Jika bayi sudah bisa merangkak, Bunda bisa membuatnya merangkak lebih sering untuk mendorong tinja agar lebih mudah keluar. Jika belum bisa merangkak, maka Bunda bisa menggerakkan kaki bayi dengan gerakan mengayuh sepeda. 

 

  • Memijat Perut

Bunda bisa mencoba memijat bagian perut bayi dengan lembut. Pusatkan pijatan di area sekitar pusar, tepatnya tiga jari dari pusar. Pijat lembut dengan arah memutar dari tengah ke luar. Pastikan Si Kecil rileks dan tidak merasa kesakitan yah, Bunda. 

 

  • Mengganti Susu Formula

Bila Si Kecil memiliki alergi terhadap susu formula, maka biasanya Bunda akan disarankan untuk mengganti susu formula dengan alternatif lain seperti susu soya. Atau misalnya Si Kecil memiliki alergi terhadap kandungan susu formula tertentu, maka dokter akan menyarankan untuk mengganti merk susu formula bila bayi susah BAB. Maka dari itu, Bunda harus lebih teliti memeriksa kandungan dalam susu formula untuk disesuaikan dengan kebutuhan Si Kecil

 

  • Kombinasi makanan

Bila sudah saatnya bayi mendapatkan makanan padat, jangan langsung memberikan makanan yang berat seperti nasi. Pilih makanan kaya serat dan berikan porsi yang tidak terlalu banyak. Untuk hasil optimal, Bunda bisa mencoba memijat perut Si Kecil terlebih dahulu sebelum diberikan makanan. 

 

  • Mandikan dengan air hangat

Memandikan Si Kecil dengan air hangat bisa membuatnya lebih rileks sehingga saluran pencernaan lebih mudah mengeluarkan kotoran.

 

  • Cegah dehidrasi

Agar proses pencernaan lancar, pastikan kebutuhan cairan Si Kecil tercukupi. Berikan ia ASI lebih banyak, atau bila sudah berusia di atas 6 bulan, berikan lebih banyak cairan lain seperti air putih, buah, ataupun sayuran yang dihaluskan untuk membantu kinerja sistem pencernaanya. 

 

Bila cara di atas sudah dilakukan namun kondisi sembelit Si Kecil tidak kunjung membaik, maka sudah saatnya Bunda berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.