×
Home Pop Up
Home > Cari Tahu > apakah olahraga dapat mencetus alergi?

apakah olahraga dapat mencetus alergi?

Apakah Olahraga dapat Mencetus Alergi?

Tentunya manfaat olahraga tidak perlu diragukan lagi. Olahraga adalah aktivitas fisik yang dilakukan agar kita memiliki tubuh sehat dan bugar. Manfaat rutin berolahraga antara lain adalah memiliki berat badan ideal, kadar kolesterol, gula darah dan tekanan darah cenderung terkontrol baik serta menurunnya risiko penyakit jantung.

Untuk individu yang memiliki alergi, olahraga harus dilakukan dengan hati-hati. Ada dugaan bahwa alergi dapat kambuh setelah berolahraga. Faktor pencetusnya adalah kelelahan, suhu panas, pelepasan zat histamin ke dalam darah, dan konsumsi makanan tertentu sebelum berolahraga.

Olahraga dan Biduran

Biduran –atau dalam istilah medis disebut urtikaria– adalah bentol pada kulit yang berwarna pucat atau merah dan terasa gatal. Biduran yang disebabkan olahraga ini tercatat dialami oleh 10-20 persen populasi dunia.

Biduran akibat olahraga umumnya timbul di daerah leher dan dada atas. Namun tak menutup kemungkinan dapat menyebar ke seluruh tubuh. Biduran yang berjumlah sedikit dapat hilang dengan sendirinya dalam 15-20 menit. Namun, biduran yang meliputi hampir seluruh tubuh baru dapat hilang hingga beberapa jam setelah muncul.

Olahraga dan Asma

Menurut penelitian, 90 persen pengidap asma mengalami kambuh saat berolahraga. Gejala asma dapat timbul saat baru mulai olahraga kemudian berlangsung hingga 30 menit setelah olahraga selesai. Pada sebagian orang asma kembali muncul 4-12 jam setelah serangan pertama. Umumnya gejala yang dirasakan adalah batuk, mengi, dan sesak napas.

Olahraga dapat mencetuskan asma apabila dilakukan di tempat bersuhu dingin, kering, dan berkadar polusi tinggi. Olahraga biasanya membuat kita bernapas lebih cepat dan melalui mulut, ini juga dapat mencetuskan asma.

Olahraga dan Syok Anafilaksis

Syok anafilaksis adalah reaksi alergi yang paling berat. Gejalanya meliputi gatal seluruh tubuh, sesak napas, mengi, rasa seperti tercekik, nyeri perut hebat, mual muntah, sakit kepala, penurunan tekanan darah, dan pingsan. Syok anafilaksis dapat menyebabkan kematian.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Tentunya kondisi alergi sebaiknya jangan menghalangi niat berolahraga. Pilihlah olahraga dengan cermat. Hindari olahraga di tempat yang bersuhu dingin, kering, dan banyak polusi untuk mencegah kambuhnya alergi. Sebelum mulai berolahraga, pastikan untuk melakukan pemanasan minimal 10 menit terlebih dahulu.

Hindari bernapas melalui mulut. Menurut Roy Sugarman, Ph.D, director of applied neuroscience untuk Athlete’s Performance dan tim sepakbola nasional Amerika Serikat, bernapas melalui hidung dapat menghangatkan dan melembapkan udara sebelum masuk ke paru-paru. Jika bernapas melalui mulut, udara yang masuk ke saluran pernapasan akan menjadi kering sehingga dapat mencetuskan asma. Bernapas melalui hidung juga mengurangi risiko terhirupnya alergen seperti debu.

Hentikan olahraga apabila Si Kecil sudah merasa lelah atau napasnya sudah mulai cepat dan dalam. Apabila diperlukan, obat antialergi dapat dikonsumsi sebelum memulai olahraga.