Home Pop Up
Klik di mana saja untuk menutup banner.
Home > Cari Tahu > alergi dot dan balon, kok bisa?

alergi dot dan balon, kok bisa?

Alergi Dot dan Balon, Kok Bisa?

Apakah anak Bunda mendadak mengalami gatal-gatal hingga ruam di kulit setelah mengisap dot atau meniup balon? Kalau iya, ada kemungkinan Si Kecil memiliki alergi terhadap lateks.

Lateks adalah getah dari tanaman karet (Hevea brasiliensis). Bahan ini kerap digunakan untuk membuat barang yang sering ditemukan sehari-hari. Di antaranya, sarung tangan karet, karet gelang, dot, balon, dan mainan karet. Bagi sebagian orang, lateks bisa memicu gejala alergi.

Alergi anak ini terjadi ketika tubuh menganggap protein dikandung lateks sebagai zat asing berbahaya. Sistem kekebalan tubuh pun meresponsnya dengan menghasilkan Immunoglobulin E atau antibodi IgE untuk 'menyerang' protein yang terdapat di karet lateks.

Antibodi ini kemudian merangsang pelepasan histamin dan bahan kimia lainnya ke dalam aliran darah. Pada tahap inilah gejala alergi muncul. Reaksi yang dialami penderita alergi lateks bisa berupa kulit gatal, ruam, bersin, mata berair, keluar ingus, hingga batuk-batuk.

Pada beberapa kasus jika reaksi alergi memburuk, penderita dapat mengalami sesak napas, tekanan darah rendah, pusing, susah bicara, mual, dan muntah.

Umumnya alergi lateks terjadi melalui sentuhan kulit. Namun, perlu diwaspadai juga protein lateks bisa menyebar melalui udara. Protein lateks juga bisa menempel pada serbuk tepung jagung yang kerap digunakan untuk sarung tangan karet.

Lalu, apakah alergi lateks bisa disembuhkan?

Dalam beberapa jenis alergi, tubuh memang bisa mengembangkan toleransi pada alergen (zat pemicu alergi) dan reaksinya bisa berkurang seiring waktu. Namun seperti dikutip dari laman web milik yayasan amal untuk alergi di Inggris, Allergy UK, sejauh ini belum dapat dipastikan apakah hal sama bisa terjadi pada alergi lateks dan reaksinya.

Beberapa pelaku bidang kesehatan bahkan menyebut belum ada obat untuk alergi lateks. "Jadi Anda hanya harus menghindarinya sebaik mungkin," ujar seorang Dermatologist asal New York Fayne L. Frey, seperti dikutip Chicago Tribune. Dokter Fayne adalah salah satu yang juga memiliki alergi lateks. (http://www.chicagotribune.com/lifestyles/health/sc-health-1022-latex-allergies-20141016-story.html)]

Karena itulah, langkah pencegahan menjadi hal penting. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan jika Si Kecil alergi pada lateks seperti disarankan American College of Allergy, Atshma, & Immunology:

Jauhkan anak dari benda berbahan lateks

Ini adalah salah satu cara termudah. Pastikan anak tidak sampai melakukan kontak langsung dengan benda-benda karet terbuat dari lateks. Memang dibutuhkan sedikit kecermatan Bunda untuk memilah mana benda terbuat dari karet lateks atau bukan.

Perlu diketahui, selain lateks ada juga benda karet yang terbuat dari bahan sintetis. Bahan terakhir tersebut dipastikan tidak akan memicu gejala alergi pada anak yang memiliki alergi lateks.

Alergen lateks juga ada pada buah-buahan

Anak dengan alergi lateks ternyata cenderung akan alergi juga pada buah-buahan tertentu. Karena, beberapa buah mengandung alergen (zat pemicu alergi) seperti ditemukan pada lateks. Buah yang bisa menjadi pemicu adalah apel, alpukat, pisang, wortel, seledri, kacang, kiwi, melon, pepaya, kentang mentah, dan tomat.

Konsultasi ke dokter ahli alergi

Konsultasilah ke dokter ahli alergi untuk mendapatkan informasi tentang penanganan gejala alergi ini (terutama bila gejala alergi yang muncul sudah dalam tahap parah) dan obat apa yang bisa digunakan dalam keadaan darurat.