Home Pop Up
Klik di mana saja untuk menutup banner.
Home > Cari Tahu > alergi asi: benar atau salah? temukan jawabannya di sini

alergi asi: benar atau salah? temukan jawabannya di sini

Alergi ASI: Benar Atau Salah? Temukan Jawabannya Di Sini

Tidak ada asupan yang lebih baik untuk Si Kecil selain ASI. Susu yang diproduksi alami oleh tubuh ini memiliki kandungan nutrisi yang penting bagi tumbuh kembang Si Kecil seperti lemak, protein dan vitamin. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan kehidupan pertama Si Kecil yang kemudian dilanjutkan dengan pengenalan makanan padat pendamping sambil masih diberikan ASI hingga Si Kecil berusia 2 tahun. Tapi, bagaimana jika Si Kecil ternyata alergi terhadap ASI Bunda?

 

Sebelum masuk ke penjabaran lebih detail, sebaiknya harus dijelaskan bahwa istilah “alergi ASI” tidak sepenuhnya benar. Si Kecil bukan alergi air susu ibu tetapi alergi terhadap protein yang terkandung di dalam ASI Bunda.

 

Hal tersebut berkaitan dengan makanan dan minuman yang Bunda konsumsi selama memberikan ASI untuk Si Kecil. Semua makanan yang Bunda konsumsi pada umumnya akan dikeluarkan melalui ASI. Jadi, apabila Si Kecil mengalami alergi terhadap komponen tersebut, maka ia akan mengalami gejala alergi seperti ruam merah yang gatal, diare, diare, kembung, muntah, konstipasi, pilek, hidung tersumbat, dan batuk. Seringkali gejala alergi ini juga menyebabkan Si Kecil gelisah dan sulit tidur.

 

Lalu, komponen apa yang sering memicu gejala alergi pada Si Kecil? Umumnya, alergi yang muncul dipicu oleh konsumsi susu dan produk olahannya, misalnya mentega, keju, yoghurt, krim, dan lain-lain. Apa yang harus dilakukan jika Si Kecil sudah memerlihatkan gejala alergi?

 

Jika Bunda curiga Si Kecil alergi terhadap makanan atau minuman yang Bunda konsumsi, cobalah memantang makanan yang mengandung susu atau makanan yang diolah menggunakan susu selama dua hingga empat minggu. Apabila selama itu gejala alergi Si Kecil menghilang, Bunda bisa kembali mengonsumsi makanan tersebut. Namun, apabila gejala alergi timbul kembali, berarti diagnosis alergi susu sapi dapat ditegakkan.

 

Jika Si Kecil tidak terbukti alergi susu sapi, tetapi tetap mengalami gejala alergi segera berkonsultasi kepada dokter agar dapat diketahui penyebab alerginya. Bisa saja Si Kecil alergi terhadap makanan laut, makanan pedas, kacang-kacangan dan lainnya. Supaya memudahkan dokter menegakkan diagnosis, Bunda bisa mencatat jenis makanan, minuman, obat, dan herbal apa yang sedang dikonsumsi.

 

Jadi, alergi bukan berarti Si Kecil tidak bisa mendapatkan manfaat ASI, ya, Bunda. Bunda harus tahu penyebab alerginya dan menghindari pencetusnya agar proses tumbuh kembang Si Kecil bisa berjalan optimal.