FAKTOR PENYEBAB ALERGI
KENALI GEJALA ALERGI
PERJALANAN PENYAKIT ALERGI
ALERGI MAKANAN
ALERGI SUSU SAPI
STRATEGI MENCEGAH DAN MENGATASI ALERGI SUSU SAPI
Ada dua faktor penyebab terjadinya alergi, yaitu faktor genetik dan lingkungan.
  1. Faktor genetik
    Anak mendapatkan ’bakat’ alergi yang diturunkan dari orangtuanya. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat alergi, memiliki peluang mengalami alergi lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak.
    Tabel 1. Tabel risiko alergi
  2. Faktor lingkungan
    Dalam keadaan normal, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi jika terdapat ’ancaman’ dari luar. Ketika ’ancaman’ berupa bakteri atau virus menyerang, sistem kekebalan akan melindungi tubuh dengan cara menghasilkan antibodi. Dalam keadaan alergi, sistem kekebalan tubuh salah mengenali bahan yang sesungguhnya tidak berbahaya sebagai suatu ’ancaman’ sehingga menimbulkan reaksi alergi. Bahan tersebut dikenal dengan istilah alergen. Alergen bisa berasal dari makanan, debu/serbuk tanaman/ bulu hewan/jamur, lateks, sengatan serangga atau obat-obatan.
    Semangat dari anak-anak Generasi Platinum serta kemampuannya yang menakjubkan akan membuat mereka mampu mewujudkan cita-cita untuk membawa perubahan pada dunia.
    Si Kecil yang mengalami Alergi Susu Sapi, perlu mendapatkan nutrisi yang tepat untuk menjadi Generasi Platinum yang Multitalenta.

    Kenali Gejala Alergi

    Alergi merupakan reaksi abnormal dari sistem kekebalan tubuh yang cukup banyak dijumpai.
    Alergi protein susu sapi merupakan salah satu alergi makanan yang paling sering terjadi pada bayi. Hal ini disebabkan karena protein susu sapi adalah salah satu jenis protein yang pertama kali diberikan pada bayi.

    Gejalanya beragam, antara lain:
Alergi bisa muncul dalam suatu rangkaian yang disebut allergic march , yang umumnya berawal pada masa kanak-kanak. Allergic march terdiri dari beberapa reaksi, seperti alergi makanan, eksim atau dermatitis atopik, asma dan rinitis alergi.
Grafik 1. Grafik rangkaian kejadian alergi (allergic march)
Alergi makanan dan dermatitis atopik sangat khas muncul pada awal kehidupan, yaitu pada usia 3-12 bulan. Memasuki usia pra-sekolah, eksim dan alergi makanan (susu, soya, telur) cenderung akan membaik dan menghilang.
Asma dan rinitis alergi baru muncul kemudian, umumnya pada usia 3-4 tahun dan berlanjut sampai usia sekolah. Rinitis alergi dan alergi makanan lainnya (kacang, makanan laut) cenderung akan menetap sampai dewasa, demikian pula halnya dengan asma karena alergi.
Jika seorang anak mengalami alergi makanan atau dermatitis atopik, maka kemungkinan besar di kemudian hari akan mengalami asma atau rinitis alergi. Beratnya alergi makanan atau eksim pada awal kehidupan ini mempengaruhi persistensi dan beratnya asma ataupun rinitis alergi di kemudian hari.
Alergi makanan merupakan reaksi hipersensitivitas yang biasanya muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu, diantaranya telur, kacang-kacangan, makanan laut, dan terutama susu sapi.
Kacang-kacangan
Telur
Seafood
Susu sapi
Reaksi yang muncul akibat alergi makanan dapat berupa eksim, diare, mual, pembengkakan tenggorokan, dan anafi laksis.
Anafi laksis adalah reaksi alergi yang mengancam jiwa. Seluruh tubuh bereaksi terhadap alergen. Yang paling sering menyebabkan anafi laksis adalah alergi obat, makanan dan sengatan serangga. Gejala muncul sangat cepat, dalam hitungan detik atau menit, berupa ruam kulit, gatal, bengkak bibir/lidah/wajah/tenggorokan/kelopak mata, sulit bernapas/sesak napas/batuk/bengek, pusing/pingsan, tekanan darah turun sangat rendah. Anafi laksis merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan pertolongan segera.
Grafi k 2. Prevalensi bahan makanan pemicu alergi
Alergen pada makanan adalah protein, dan susu sapi merupakan salah satu jenis protein yang paling sering menimbulkan alergi pada bayi/anak. Reaksi hipersensitivitas yang terjadi setelah pemberian susu sapi makanan yang mengandung susu sapi dikenal sebagai alergi susu sapi (ASS). Untuk ASS yang diperantarai IgE, gejala bisa timbul dalam waktu 30 menit sampai 1 jam setelah mengonsumsi protein susu sapi. Sedangkan ASS yang tidak diperantarai IgE gejalanya timbul lebih lambat (1-3 jam).
Gejala alergi susu sapi bisa muncul pada berbagai organ tubuh
*Gagal tumbuh : pertambahan berat dan tinggi badan anak yang kurang, lebih rendah dari anak seusia dengan jenis kelamin sama, yang biasanya disertai dengan fungsi kognitif dan emosi yang kurang.
Yuk kenali gejala alergi susu sapi
Jika ternyata anak berisiko tinggi mengalami alergi, maka tindakan pencegahan yang dapat dilakukan sebelum gejala alergi muncul, yaitu:
  1. ASI eksklusif selama 6 bulan pertama
  2. Hindari paparan asap rokok selama hamil dan setelah bayi lahir
  3. Selama hamil dan menyusui, ibu tidak menghindari makanan yang sering menimbulkan alergi seperti telur, kacang-kacangan, ikan, dan makanan laut serta susu sapi
  4. Pengenalan makanan padat untuk anak dimulai pada usia 6 bulan
  5. Tidak ada penundaan pemeberian telur, kacang, ikan dan makanan laut serta jenis makanan lainnya pada waktu Si Kecil mulai mendapat pengenalan makanan padat
  6. Pemberian susu formula Protein Terhidrolisat Parsial (P-HP) dan Protein Terhidrolisat Penuh untik bayi-bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI.
Susu formula Protein terhidrolisat Parsial (P-HP) memiliki rantai protein yang lebih pendek dan mudah dicerna sehingga kemungkinan untuk menyebabkan alergi lebih kecil.
Untuk bayi dan anak yang mendapatkan susu formula dan ternyata alergi terhadap protein susu sapi, maka strategi yang paling tepat untuk mengatasi alergi susu sapi adalah menghindari protein susu sapi yang utuh dan sebagai penggantinya bisa diberikan formula hidrolisat penuh, formula asam amino, atau formula isolat protein kedelai (soya).
Faktor Penyebab Alergi
KENALI GEJALA ALERGI
Kejadian Alergi
Alergi Makanan
Alergi Susu Sapi
Strategi Mencegah dan Mengatasi Alergi Susu Sapi